Selamat
Datang di Gallery
Keris Kembang Kantil
Koleksi
Keris & Benda Antik Kerajaan yang Ada di Jawa
Yang
terhormat :
Penikmat / Pemerhati / Kolektor
Benda Seni dan Pusaka
Semoga melalui website ini dapat
menjadikan kita berteman dan bersaudara dalam berbagi pengetahuan dan
pengalaman tentang spiritual. Sebelumnya perkenankan saya untuk memperkenalkan
diri. Kami menyediakan pelayanan konsultasi spiritual maupun pemahaman tentang
benda-benda pusaka yang berdaya spiritual tingkat tinggi. Kami menyediakan
benda-benda pusaka dari berbagai sumber yang didapat dari alam semesta, alam
ghaib atau penemuan yang lama terpendam dalam tanah yang merupakan peninggalan
dari kerajaan kerajaan pada zaman dulu seperti kerajaan majapahit dan kerajaan
singashari dan juga menyediakan barang antik seperti patung, kereta mainan,
gada dan lain lain yang tidak dapat saya sebutkan secara keseluruhan.
Seputar tentang Keris
Keris adalah senjata nusantara
dengan bentuk bergelombang seperti ular atau lurus dan pola rumit yang tercipta
dari perpaduan beberapa jenis logam, seperti besi, baja, emas, nikel bahkan
meteorit. Bilah keris tidak dibuat dari logam tunggal yang dicor tetapi
merupakan campuran berbagai logam yang berlapis-lapis. Akibat teknik pembuatan
ini, keris memiliki kekhasan berupa pamor pada bilahnya. Dengan cara ini Anda
mendapatkan bagian pamor yang mengandung warna putih, abu-abu, keemasan atau
hitam.
Dalam budaya Jawa tradisional, keris
tidak semata-mata dianggap sebagai senjata tikam yang memiliki keunikan bentuk
maupun keindahan pamor, akan tetapi juga sebagai kelengkapan budaya spiritual. Ada
satu anggapan yang berlaku di kalangan Jawa tradisional yang mengatakan,
seorang pria baru bisa dianggap paripurna jika ia sudah memiliki lima unsur
simbolik: curiga, turangga, wisma, wanita, kukila.
- Curiga, secara harafiah artinya keris, secara simbolik maksudnya adalah kedewasaan, keperkasaan dan kejantanan. Seorang pria Jawa tradisional, harus tangguh dan mampu melindungi diri, keluarga atau membela negara. Perlambangnya adalah keris.
- Turangga artinya kuda atau kendaraan (simbol masa kini adalah motor atau mobil)
- Wisma adalah rumah
- Wanita arti khususnya isteri
- Kukila arti harafiahnya adalah burung. Arti simbolik burung di sini, bagi seorang pria Jawa tradisional, ia harus mampu mengolah, menangkap dan menikmati keindahan serta berolah-seni.
Pada zaman kerajaan-kerajaan di masa
lalu, tanda mata paling tinggi nilainya adalah keris. Pemberian paling berharga
dari seorang Raja Jawa kepada para perwiranya atau abdi dalem, adalah keris.
Pada perkembangannya, keris di lingkungan kerajaan bisa menjadi simbol
kepangkatan. Keris seorang Raja, tentu saja berbeda dengan keris perwira atau
abdi dalem bawahannya. Tidak hanya bilah kerisnya saja yang berbeda, akan
tetapi juga detail-detail perhiasan serta perabot yang melengkapinya pun
berbeda.
Gradasi kepangkatan dari pemilik
keris, juga bisa ditilik dari warangka yang menyarungi atau membungkus bilah
keris. Warangka seorang Raja, tentu saja berbeda dengan warangka bawahannya.
Bila seorang kesatria, tepat kiranya bila warangka yang dipakainya adalah
warangka dengan wanda (model) kasatriyan. Pejabat kerajaan, memakai warangka
kadipaten. Ada lebih dari 25 varian warangka Jawa di masa lalu yang bisa
menjadi indikator kepangkatan pemiliknya. Bahkan daerah asal pun bisa ditilik
dari warangkanya, apakah pemiliknya orang dari Yogyakarta, Surakarta, Banyumas,
Jawa Timur, Madura atau Bali.
Salah satu keunikan keris adalah
kekuatannya pada detil. Hampir setiap detil yang melekat pada keris, baik pada
bilahnya, warangka maupun perabotnya semuanya bisa menjadi simbol. Dari ukiran
atau pegangan keris pun, pada masa lalu orang bisa menilik derajat dan
kepangkatan. Varian ukiran keris Jawa pun, seperti halnya warangka, ada berbagai
macam varian. Dibagi dalam dua garis besar gaya: Surakarta dan Yogyakarta. Di
luar itu, tentu masih ada lagi gaya lain warangka atau ukiran luar Jawa
seperti: Madura, Bali, Lombok, Sulawesi, Sumatera.
Keris Hidup atau Keris Mati ?
Orang-orang di Indonesia memakai
keris untuk menghiasi pakaian mereka, terutama untuk perayaan tradisional
seperti perayaan pernikahan, perayaan acara-acara kerajaan dan perayaan agama
lainnya. Keris dibuat dari besi dan logam dengan tingkat konsentrasi yang
tinggi pada bagian bilahnya. Orang-orang percaya bahwa empu, atau seorang ahli
pembuatan keris, memberi kekuatan magis untuk kelengkapan dan kesempurnaan
sebuah keris. Dahulu kala, nenek moyang kita bisa mengeluarkan banyak uang
untuk mendapatkan sebuah keris yang kuat dan hidup. Mereka tidak membagi atau
menggolongkan atara keris lama atau keris baru, namun menggolongkan dalam keris
hidup atau keris mati.
Sering kita mendengar ada salah
seorang pemilik keris yang mengatakan keris saya kosong karena sudah tidak
terawat atau sebab – sebab yang lainnya, cerita di masyarakat tentang isi atau
tidaknya suatu (keris) memang masih membingungkan, walaupun keris itu dari
warisan, pemberian orang, mas kawin atau yang mendapatkan dengan cara-cara
lainnya.
Keris hidup atau yang berisi
tayuhan, pasti memiliki daya dan memancarkan serta memberikan aura tersendiri
bagi yang melihat atau memilikinya, daya isi bisa berupa perwujudan keris itu
tampak wingit, galak, demes atau memiliki prabawa tersendiri sedang keris
yang tidak berisi pasti tampak biasa tidak ada rasa atau sesuatu dalam perasaan
kita”. Bahwa keris yang dulunya dibuat sebagai keris Tayuhan atau
keris pusaka kekuatannya tidak dapat hilang, dikarenakan bahan-bahan yang
dipakainya saja sudah mengandung tuah. Besinya dicari besi pilihan yang
bertuah, pamornya juga demikian sehingga isi dari keris tersebut tidak akan
hilang selama perwujudannya masih ada. Secara Logika dapat disamakan dengan
besi Magnet, jenis besi ini memang memiliki kekuatan untuk dapat menarik
besi, kekuatannya tidak bakal hilang selama unsur-unsur magnetnya masih ada
demikian juga Keris, selama unsur besi, Baja dan Pamor masih melekat kekuatan
alaminya tidak bakal hilang. Hanya para empu yang mengetahui kekuatan atau daya
apa yang terkandung dalam bahan-bahan keris tersebut. Jika ada orang yang dapat
mengambil isi keris sebenarnya hanya daya postipnotis (daya saran) yang
dilekatkan empu saja yang diambilnya, sedang daya alami dari bahan keris akan
tetap ada secara alami.
Bagaimana Memilih Keris Yang Baik?
Memiliki sebuah keris memang sangat
membangggakan, disamping ikut nguri-uri (bahasa jawa) dan melestarikan budaya
yang adi luhung warisan nenek moyang juga menambah dan menumbuhkembangkan
semangat mencintai budaya nenek moyang. Memiliki keris yang cocok dan sesuai
dengan kebutuhan memang tidak gampang karena disamping sulit mendapatkannya
juga harga yang mahal apalagi kalau keris itu benar-benar keris yang memiliki
sejarah yang jelas, keindahan dan karisma yang tinggi. Bagaimana memilih keris
yang baik ?, pertanyaan itu yang sering muncul jika kita ingin memiliki keris.
Banyak para pecinta keris yang sudah memiliki patokan-patokan sendiri dalam
mencari atau memiliki keris salah satunya adalah Tangguh, Wutuh dan Sepuh.
- Tangguh adalah suatu perkiraan jaman pembuatan keris. Tangguh ditemukan dari meneliti bahan, garap dan motip pamor yang ada pada sebuah keris. Misalnya keris tangguh majapahit besinya hitam, ukuran bilahnya kecil, ganjanya juga kecil manis dan pamornya kecil seperti rambut kemudian untuk keris tangguh Mataram besinya mentah, bentuk bilahnya seperti daun singkong, ganja seperti cicak sedang menangkap mangsa dan pamor penuh atau mubyar sedang keris tangguh pajajaran bercirikan kerisnya tipis, lebar pamornya berkesan ngajih dan besinya kering. Dan juga keris itu jelas asal usulnya, pertama keris itu harus diketahui (diperkirakan buatan) mana, jelas pula siapa pemilik asalnya dan juga perlu dipertanyakan kenapa keris tersebut mau di mas kawinkan . Ada beberapa orang yang teliti sampai mengamati dahulu bagaimana keadaan keluarga pemilik keris tersebut, apakah ia keluarga yang bahagia atau yang berantakan .
- Wutuh adalah suatu kesan tentang keadaan dari sebuah keris yang masih lengkap bagian-bagiannya, tidak ada yang patah atau keropos yang terlalu parah. Jika sudah keropos atau hilang salah satu bagian keris maka nilai keris tersebut akan menjadi berkurang. Intinya keris yang cacat jangan sampai dipilih, keris yang asal mulanya dibuat indah dan terbuat dari bahan baku pilihan walaupun telah aus biasanya masih tetap terbayang keindahannya. Keris yang dianggap tidak lagi utuh adalah keris yang patah bilahnya, patah kembang kacangnya atau pesinya.
- Sepuh adalah tua, bukan keris jaman sekarang yang dituakan karena proses kimia. Ciri dari keris itu tua adalah dengan melihat ada tidaknya slorok (batas antara besi dan baja ) pada tiap bilah keris biasanya ada warna yang berbeda batas tersebut berwarna kebiruan atau hijau metalik dan terdapat ditepi bilah sebagai tajamnya keris. Banyak para pecinta keris pemula kadang tidak begitu mengerti tentang slorok ini sehingga sering keliru dalam memilih keris
Proses kepemilikan sebuah keris
bermacam-macam, ada yang lewat warisan orang tua, pemberian seseorang, membeli
atau mas kawin dari seseorang atau juga dengan cara-cara yang tertentu dengan
meminta ridho dan ijin Tuhan. Semua cara sah-sah saja asal jangan sampai
menelantarkan tugas utama dan keluarga. Memiliki keris yang baik memang tidak
mudah tetapi kalau berjodoh dengan sedikit dana kita bisa mendapatkan keris
yang istimewa dan cocok dengan hati kita. Akan lebih baik jika kita memilih
keris dengan acuan seni dan keindahannya, walau keris itu muda tetapi seni
garap dan keindahannya melebihi keris – keris yang sudah tua apa salahnya kita
milikinya, hal ini akan membuktikan cita rasa seni yang tinggi pemiliknya.
Jangan sampai kita memiliki dan membeli keris karena tertarik pada cerita
sipenjualnya, ini artinya yang kita beli adalah ceritanya dan bukan keindahan
atau kualitas kerisnya. Memiliki keris dengan niat pertama nguri-uri
(melestarikan) budaya, dengan niat ini maka kita tidak akan terjerumus pada
kemusrikan / kesyirikan, karena yang kita nilai dari sebuah keris adalah
budayanya bukan dayanya/isinya, jika sebuah keris ada tuahnya, ini terjadi atas
ijin ALLAH SWT, kita serahkan kembali kepadaNya.